Gadis ini bernama Desi, karena pada saat itu lagi trend - trendnya donal bebek, dan kebetulan dia namanya Desi dan dia menjuluki dirinya Desi bebek, dan reflek gue menjuluki gue adalah seekor sosok Donal bebek Pasangan dari Desi bebek, gue mendalami lagi peran Bebek, gue tiba - tiba nyebur ke empang, dan nyosor - nyosor pantat orang, sapaan Desi ke gue menyadarkan gue dari imajinasi bebek biadab, "ngapain kamu yo disini bengong, mending main yuk" Desi muncul dengan wajah belepotan bedak dan rambut setengah basah, itu artinya dia habis mandi dan dapet dandan quickie dari nyokapnya.
Dia mengajak gue untuk main boneka, dan gue berpikir ini adalah cenayang dari masadepan gue jadi banci salon kelak kalo gue udah gede nanti. Otomatis dia ngajak gue kerumahnya, diteras rumahnya kebetulan ada bokap si Desi, “siapa itu sayang?” bokapnya sambil nyeruput kopi, “Temen aku pah namanya Rio” Desi sambil nyeruput kopi bokapnya. Akhirnya kita masuk dan menghampiri tumpukan boneka, ternyata Desi adalah pengkoleksi Barbie, namun ia buat semua boneka itu bagai habis diperkosa bergilir sama sekumpulan tukang ojek, pakaian mereka sobek dan sebagian mereka telanjang, gue takut habis ini gue yang ditelanjangi sama desi. Nyokapnya muncul dengan seseorang anak laki – laki yang sepertinya seumuran dengan gue, “Desi nih ada Barry baru sampe dari Jakarta” seru nyokapnya desi, dan ia juga nanya Desi dengan nunjuk gue, “itu siapa nak?”, “Rio mah, temen aku dia baik deh mau main sama boneka aku padahal dia kan cowo” Desi anti klimaks, menguatkan kalo gua bakal jadi banci kalo udah gede nanti.
Namanya Barry, dia berasal dari Jakarta, di adalah teman dekat Desi dulu waktu Desi tinggal di Jakarta, kebetulan dulu orangtua mereka bertetangga, Desi ngacir main sama Barry, dan gue ditinggal berdua dengan boneka korban pemerkosaan. Jauh berjalannya waktu kami sudah dewasa, sudah lewat pula masa - masa teenagers, dan akhirnya gue ngerasain mimpi basah beneran, disiram sama nyokap pake air seember karena susah dibangunin. Gue pun sudah kuliah semester akhir, kebetulan Desi juga satu kampus sama gue di universitas bergengsi di Malang. Dan Barry? Dia kuliah di Jakarta, dan sesekali kalo libur tiba dia main ke Malang buat ngunjungin Desi. Gue merasa digantung sama Desi, karena keseharian gue sama dia terus, kekampus bareng, nugas bareng walau kita beda jurusan, makanya gue suka di usir dosen dari kelas karena tugas akuntansi gue isi dengan karya sastra Shakespeare karena gue nyontek tugas Desi dan dia jurusannya Sastra, goblok.
Jauh berjalannya waktu gue sudah lulus dan bekerja di posisi yang gue inginkan di suatu perkantoran, dan ini menepis bayangan masa kecil gue kalo gue bakal jadi banci salon, menghela napas lega. Lama gue ga liat Desi semenjak kami di wisuda, menghilang begitu saja, rumahnya pun sepi, gue berpikir mungkin Desi dan keluarganya sudah pindah, betul saja, sebulan kemudian gue dapet undangan disitu tertulis “Desi Septiani Mangkuwiharjo menikah dengan Barry Barry” dan gue baru tau nama panjang Barry kayak nama sejenis penyakit. Mereka akan menikah di Jakarta, dan disamping undangan pernikahan itu ada satu keranjang buah Apel Malang, ga sedikitpun gue sentuh apel itu, pahit.